Sulitnya Shalat Khusyuk


Pada suatu hari, Rasulullah sedang duduk-duduk di sebuah tempat. Itu adalah sesuatu yang sering dia lakukan bersama para sahabat. Selain demi mendekatkan diri dengan para sahabat-sahabatnya, beliau juga sering memberi banyak nasihat dalam majelis itu. Suasana yang santai menyebabkan ilmu sangat mudah mereka serap.



Ketika mereka sedang asyik membahas sesuatu, tiba-tiba datang seorang Badui yang bergabung dan duduk di antara mereka. Orang Badui adalah orang pedalaman Arab yang agak kasar dan kurang dalam tata krama. Tetapi, setelah cahaya Islam datang, lambat laun stempel buruk itu mulai hilang.



Wahai Rasulullah, Allah telah mewajibkan ke­pada kita shalat lima waktu sehari semalam. Selain itu, Dia juga memberi cobaan kepada kita berupa dunia dengan segala permasalahannya,” kata orang Badui itu. “Demi kebenaran risalahmu, ya Rasulullah, sungguh kami tidak pernah shalat melainkan kami juga membawa dunia ke dalam shalat kami. Apakah Allah akan menerima shalat kami?” tambah lelaki Badui tersebut.



Rasulullah hanya diam saat mendengar perkataan si Badui itu. Setelah selesai, beliau pun berpaling ke­pada para sahabat.



Ali, salah seorang sahabat Rasulullah, menjawab. “Sesungguhnya, shalat seperti itu tidaklah akan di­terima dan tidak akan dilihat di akhirat kelak.”



Mendengar penuturan Ali, maka Rasulullah pun berkata. “Wahai Ali, dapatkan engkau shalat dua ra­kaat dengan tanpa membawa urusan dunia ke dalam shalatmu? Kalau bisa shalatlah dan sebagai hadiah aku akan memberikan surbanku yang paling bagus.” Saat mendengar tantangan Rasulullah, maka Ali pun menyanggupinya. “Aku bisa melaksanakannya, ya Rasulullah.”



“Lakukan!” kata Rasulullah.



Ali pun berdiri untuk shalat di hadapan para saha­bat. Dia shalat dengan niat tulus ikhlas dengan tidak berharap apa pun. Rakaat pertama dapat dia lalui dengan sukses. Segala hal yang berbau keduniaan dapat dia kesampingkan. Namun, di rakaat kedua, ketika dia baru bangun dari ruku’ untuk ‘i’tidal, kon- sentrasinya goyah. Pikirannya kacau. Dalam hati, dia teringat hadiah yang akan diberikan Rasulullah, apa­bila dia bisa shalat dengan khusyuk. Dalam hati dia berkata, seandainya surban yang diberikan itu yang dari katun sungguh aku lebih senangl



Setelah Ali selesai shalat, Rasulullah langsung bertanya kepada Ali perihal shalatnya. ‘Apa yang terjadi dengan shalatmu, wahai Abu Hasan?”



Ali pun menceritakan hal yang sebenarnya. “Pada rakaat yang pertama, aku bisa shalat dengan khusyuk, ya Rasulullah. Tetapi, di rakaat yang ke­dua, terlintas di hatiku bahwa seandainya engkau memberiku surban yang dari katun sungguh itu lebih baik.” ujar Ali panjang lebar. “Demi Dzat yang mengutusmu, wahai Rasulullah, sungguh tidaklah ada orang yang bisa shalat tanpa menghilangkan kehidupan dunia dalam shalatnya,” tambahnya lagi.



“Laksanakanlah shalat fardhu kalian dan jangan­lah kalian shalat sambil berbicara, karena sesung­guhnya Allah tidak akan menerima shalat orang yang membawa dunia dalam ibadahnya. Mohon ampunlah kalian sesudah shalat. Sungguh, Allah itu mempunyai rahmat sebanyak seratus yang akan ditebarkan di hari kiamat kelak. Tidaklah kalian shalat melainkan kelak dia akan berada dalam naungan shalatnya.” kata Rasulullah.



Shalat adalah sesuatu ke­wajiban yang dibebankan kepada tiap-tiap muslim. Meski sangat sulit untuk khusyuk, sebab tidak ada seorang pun yang bisa lepas dari kehidupan dunia, tapi kita tetap harus melaksanakannya. Sebab, shalat akan menjadi penolong kita di hari kiamat kelak.



 



Dikutip dari Buku Taubatnya Seorang Pelacur, Penerbit DIVA Press


Posted in umum. 0 Comment »


Tugas yang Mustahil

ABU Nawas belum kembali. Kata istrinya ia bersama seorang Pendeta dan seorang Ahli yoga sedang melakukan pengembaraan suci.Padahal saat ini Baginda amat membutuhkan bantuan Abu Nawas.



Beberapa hari terakhir ini Baginda merencanakan membangun istana di awang-awang. Baginda tidak mau kalah dari raja-raja negeri sahabat yang telah membangun bangunan-bangunan yang luar biasa.



Baginda tidak ingin menunggu Abu Nawas lebih lama lagi. Beliau mengutus beberapa orang kepercayaannya untuk mencari Abu Nawas. Mereka tidak berhasil menemukan Abu Nawas, karena Abu Nawas ternyata sudah berada di rumah ketika mereka baru berangkat.



Abu Nawas menghadap Baginda Raja Harun al-Rasyid. Baginda amat riang. Saking gembiranya beliau mengajak mengajak Abu Nawas bergurau . Setelah saling tukar menukar cerita-cerita lucu lalu Baginda mulai mengutarakan rencananya.



"Aku sangat ingin membangun istana di awang-awang agar aku lebih terkenal di antara raja-raja yang lain. Adakah kemungkinan keinginanku itu terwujud, wahai Abu Nawas?"



"Tidak ada yang tidak mungkin dilakukan di dunia ini Paduka yang mulia." kata Abu Nawas berusaha mengikuti arah pembicaraan Baginda.



"Kalau menurut pendapatmu hal itu tidak mustahil diwujudkan maka aku serahkan sepenuhnya tugas ini kepadamu." kata Baginda puas.



Abu Nawas terperanjat. la menyesal telah mengatakan kemungkinan mewujudkan istana di awang-awang. Tetapi nasi telah menjadi bubur. Kata-kata yang telah telanjur didengar oleh Baginda tidak mungkin ditarik kembali.



Baginda memberi waktu Abu Nawas berapa minggu. Rasanya tak ada yang lebih berat bagi Abu Nawas selain tugas yang diembannya sekarang. Jangankan membangun istana di langit, membangun sebuah gubuk kecil pun sudah merupakan hal yang mustahil dikerjakan. "Hanya Tuhan saja yang mampu melakukannya," begitu gumam Abu Nawas.



Hari-hari berlalu seperti biasa. Tak ada yang dikerjakan Abu Nawas kecuali memikirkan bagaimana membuat Baginda merasa yakin kalau yang dibangun itu benar-benar istana di langit.



Seluruh ingatannya dikerahkan dan dihubung-hubungkan. Abu Nawas bahkan berusaha menjangkau masa kanak-kanaknya. Sampai ia ingat bahwa dulu ia pernah bermain layang-layang.



Hal inilah yang membuat Abu Nawas girang. Abu Nawas tidak menyia-nyiakan waktu lagi. la bersama beberapa kawannya merancang layang-layang raksasa berbentuk persegi empat. Setelah rampung baru Abu Nawas melukis pintu-pintu serta jendela-jendela dan ornamen-ornamen lainnya.



Ketika semuanya selesai Abu Nawas dan kawan-kawannya menerbangkan layang-layang raksasa itu dari suatu tempat yang dirahasiakan. Begitu layang-layang raksasa berbentuk istana itu mengapung di angkasa, penduduk negeri gempar.



Baginda Raja girang bukan kepalang. Benarkah Abu Nawas berhasil membangun istana di langit?



Dengan tidak sabar beliau didampingi beberapa orang pengawal bergegas menemui Abu Nawas. Abu Nawas berkata dengan bangga. "Paduka yang mulia, istana pesanan Paduka telah rampung."



"Engkau benar-benar hebat wahai Abu Nawas." kata Baginda memuji Abu Nawas.



"Terima kasih Baginda yang mulia," kata Nawas "Lalu bagaimana caranya aku kesana?" tanya



Baginda. "Dengan tambang, Paduka yang mulia." kata Abu Nawas.



"Kalau begitu siapkan tambang itu sekarang. Aku ingin segera melihat istanaku dari dekat," kata Baginda tidak sabar.



"Maafkan hamba Paduka yang mulia. Hamba kemarin lupa memasang tambang itu sehingga seorang kawan hamba tertinggal di sana dan tidak bisa turun," kata Abu Nawas.



"Bagaimana dengan engkau sendiri Abu Nawas? Dengan apa engkau turun ke bumi?" tanya Baginda.



"Dengan menggunakan sayap, Paduka yang mulia," kata Abu Nawas dengan bangga.



"Kalau begitu buatkan aku sayap supaya aku bisa terbang ke sana," kata Baginda.



"Paduka yang mulia, sayap itu hanya bisa diciptakan dalam mimpi," kata Abu Nawas menjelaskan.



"Engkau berani mengatakan aku gila sepertimu?" tanya Baginda sambil melotot.



"Ya, Baginda. Kurang lebih seperti itu," jawab Abu Nawas tangkas.



"Apa maksudmu?" tanya Baginda lagi.



"Baginda tahu bahwa membangun istana di awang-awang adalah pekerjaan yang mustahil dilaksanakan, tetapi Baginda tetap menyuruh hamba mengerjakannya. Hamba pun tahu bahwa pekerjaan itu mustahil dikerjakan, tetapi hamba tetap menyanggupi titah Baginda yang tidak masuk akal itu," kata Abu Nawas berusaha meyakinkan Baginda.



"Sebenarnya siapa diantara kita yang gila?" tanya Baginda mulai jengkel.



"Hamba kira kita berdua sama-sama tidak waras Tuanku," jawab Abu Nawas tanpa ragu.



Tanpa menoleh Baginda Raja kembali ke istana diiring para pengawalnya. Abu Nawas berdiri sendirian sambil memandang ke atas melihat istana terapung di awang-awang.



Disadur dari 30 anekdot abu nawas, penulis Muhammad Nur Ali, S.Ag. Penerbit Al Qalam (Kelompok GEMA INSANI)

Posted in umum. 0 Comment »