Sulitnya Shalat Khusyuk
30 September 2011
Pada suatu hari, Rasulullah sedang duduk-duduk di sebuah tempat. Itu adalah sesuatu yang sering dia lakukan bersama para sahabat. Selain demi mendekatkan diri dengan para sahabat-sahabatnya, beliau juga sering memberi banyak nasihat dalam majelis itu. Suasana yang santai menyebabkan ilmu sangat mudah mereka serap.
Ketika mereka sedang asyik membahas sesuatu, tiba-tiba datang seorang Badui yang bergabung dan duduk di antara mereka. Orang Badui adalah orang pedalaman Arab yang agak kasar dan kurang dalam tata krama. Tetapi, setelah cahaya Islam datang, lambat laun stempel buruk itu mulai hilang.
Wahai Rasulullah, Allah telah mewajibkan kepada kita shalat lima waktu sehari semalam. Selain itu, Dia juga memberi cobaan kepada kita berupa dunia dengan segala permasalahannya,” kata orang Badui itu. “Demi kebenaran risalahmu, ya Rasulullah, sungguh kami tidak pernah shalat melainkan kami juga membawa dunia ke dalam shalat kami. Apakah Allah akan menerima shalat kami?” tambah lelaki Badui tersebut.
Rasulullah hanya diam saat mendengar perkataan si Badui itu. Setelah selesai, beliau pun berpaling kepada para sahabat.
Ali, salah seorang sahabat Rasulullah, menjawab. “Sesungguhnya, shalat seperti itu tidaklah akan diterima dan tidak akan dilihat di akhirat kelak.”
Mendengar penuturan Ali, maka Rasulullah pun berkata. “Wahai Ali, dapatkan engkau shalat dua rakaat dengan tanpa membawa urusan dunia ke dalam shalatmu? Kalau bisa shalatlah dan sebagai hadiah aku akan memberikan surbanku yang paling bagus.” Saat mendengar tantangan Rasulullah, maka Ali pun menyanggupinya. “Aku bisa melaksanakannya, ya Rasulullah.”
“Lakukan!” kata Rasulullah.
Ali pun berdiri untuk shalat di hadapan para sahabat. Dia shalat dengan niat tulus ikhlas dengan tidak berharap apa pun. Rakaat pertama dapat dia lalui dengan sukses. Segala hal yang berbau keduniaan dapat dia kesampingkan. Namun, di rakaat kedua, ketika dia baru bangun dari ruku’ untuk ‘i’tidal, kon- sentrasinya goyah. Pikirannya kacau. Dalam hati, dia teringat hadiah yang akan diberikan Rasulullah, apabila dia bisa shalat dengan khusyuk. Dalam hati dia berkata, seandainya surban yang diberikan itu yang dari katun sungguh aku lebih senangl
Setelah Ali selesai shalat, Rasulullah langsung bertanya kepada Ali perihal shalatnya. ‘Apa yang terjadi dengan shalatmu, wahai Abu Hasan?”
Ali pun menceritakan hal yang sebenarnya. “Pada rakaat yang pertama, aku bisa shalat dengan khusyuk, ya Rasulullah. Tetapi, di rakaat yang kedua, terlintas di hatiku bahwa seandainya engkau memberiku surban yang dari katun sungguh itu lebih baik.” ujar Ali panjang lebar. “Demi Dzat yang mengutusmu, wahai Rasulullah, sungguh tidaklah ada orang yang bisa shalat tanpa menghilangkan kehidupan dunia dalam shalatnya,” tambahnya lagi.
“Laksanakanlah shalat fardhu kalian dan janganlah kalian shalat sambil berbicara, karena sesungguhnya Allah tidak akan menerima shalat orang yang membawa dunia dalam ibadahnya. Mohon ampunlah kalian sesudah shalat. Sungguh, Allah itu mempunyai rahmat sebanyak seratus yang akan ditebarkan di hari kiamat kelak. Tidaklah kalian shalat melainkan kelak dia akan berada dalam naungan shalatnya.” kata Rasulullah.
Shalat adalah sesuatu kewajiban yang dibebankan kepada tiap-tiap muslim. Meski sangat sulit untuk khusyuk, sebab tidak ada seorang pun yang bisa lepas dari kehidupan dunia, tapi kita tetap harus melaksanakannya. Sebab, shalat akan menjadi penolong kita di hari kiamat kelak.
Dikutip dari Buku Taubatnya Seorang Pelacur, Penerbit DIVA Press
