Berhajilah Sekali Saja seperti Rasulullah


Pak Kasiman (sebut saja begitu) tak pernah habis pikir atas nasib baik Haji Ihsan yang bisa berulangkali naik haji. Sebagai bawahan, Pak Kasiman mengetahui detail seluk beluk kelakuan atasannya itu baik di kantor maupun di rumah.



Keheranan Pak Kasiman adalah kenapa Tuhan begitu enteng membiarkan atasannya  berkunjung berkali-kali ke rumah suci yang paling diberkahi di muka bumi, padahal atasannya tersebut adalah orang dianggapnya berlumur kesalahan dan korupsi.



Timbul pertanyaan dalam benak Pak Kasiman, apakah atasannya itu tak pernah mengalami peristiwa ganjil sebagai teguran Tuhan selama di Tanah Suci atas perilaku negatifnya selama ini.



Jamak diketahui, baik atau buruk perilaku jamaah haji pasti akan mendapatkan balasan selama menunaikan ibadah haji. Balasan itu biasanya berupa peristiwa-peristiwa ganjil baik positif maupun negatif yang ditimpakan Tuhan kepada jamaah haji.

Posted in budaya. 0 Comment »


Ibu…..

Apa yang kita bayangkan pada saat akan menjadi seorang ibu? Mempunyai anak yang baik, yang pinter dan segala macam hal baik lainnya. Tapi, apa persiapan kita untuk menjadi seorang ibu yang baik? Menjadi seorang ibu, bukan sekedar kita menikah dan mempunyai anak, namun diperlukan kesiapan mental, juga fisik. Karena sekali menjadi seorang ibu, maka seorang ibu akan selamanya menjadi seorang ibu.


Seperti yang disampaikan Mario Teguh dalam acara, dengan judul “A mother’s prayer” di Metro TV tanggal 21 Desember 2008, Mario Teguh menyatakan “Ibu tak pernah cuti, tak ada lembur. Keberhasilan ibu adalah keberhasilan anak-anaknya, serta kesedihan anak-anaknya adalah kesedihan ibunya.” Selanjutnya Mario Teguh juga mengatakan, bahwa “ibu menjadi tempat bersandar banyak orang. Ibu menginginkan anaknya berdiri tegak, berjalan dan mempunyai kehidupan yang lebih baik. Oleh karena itu, sebaiknya kita sesedikit mungkin bercerita pada beliau, karena begitu masalah yang kita hadapi telah selesai, ibu masih kepikiran”.


Apa yang dikatakan Mario Teguh tadi benar adanya, apalagi setelah saya merasakan sendiri bagaimana rasanya menjadi seorang ibu sejak 26 tahun yang lalu. Peran seorang ibu sangat penting dalam meletakkan dasar-dasar pondasi pendidikan anak-anaknya, pada sikap dan perilaku, serta menjaga agar rumah tangga aman tenteram sedahsyat apapun badai cobaan menggulungnya. Ada pancaran kasih, doa serta pengorbanan seorang ibu, apapun yang menjadi profesi ibu tadi. Kondisi yang semakin berubah, semakin banyaknya wanita karir, diikuti semakin dahsyatnya pengaruh globalisasi yang juga sangat berpengaruh pada perilaku anak-anak kita, semakin menunjukkan betapa peran ibu harus semakin kuat. Sebagaimana sms yang saya terima pagi ini, dari sahabat saya, yang juga seorang ibu, agar kita dapat menjadi ibu yang mampu menciptakan suasana kesejukan, sehingga ada surga di bawah telapak kaki ibu.


Pada saat si anak masih dalam kandungan, ibu harus telah mempersiapkan diri, mendisiplinkan diri, agar anak telah menjadi disiplin sejak masih di dalam kandungan. Seorang anak tidak ingin dilahirkan, namun orangtua lah yang menginginkan kelahiran anak-anaknya, sebagai penyambung keturunan nya. Ibu yang telah mempersiapkan diri, akan lebih tenang dalam menghadapi kesulitan, baik dalam masa kehamilan, proses kelahiran, maupun merawat bayinya dengan penuh kasih sayang setelah anak lahir dengan selamat.


Perkembangan kepribadian dan perilaku anak, sangat ditentukan oleh bagaimana orangtua mendidiknya, disini peran ibu sangat penting. Ibu lah yang mengandung selama 9 bulan, kemudian menyusui, serta menimang anaknya….. selain itu juga mengajarkan anak-anaknya sejak anak bisa mengerti. Mengajarkan etika, agama, dan pelajaran lain yang akan mengembangkan pola pikir dan perilaku anak ke arah yang baik.


Semakin anak besar, tentu saja ibu tak selalu bisa mendampingi anak-anaknya, tapi ibu yakin jalinan yang ada antara ibu dan anaknya. Ibu akan terus berdoa, dan menyerahkan anak pada Allah swt, dan semoga dijauhkan dari segala marabahaya. Dan ibu percaya, doa-doa ibu yang dipanjatkan akan menyertai perjalanan anaknya kemanapun dia berada, dan selalu menjadi penerang atas kehidupannya.


Ibu akan tahu dan merasa, apakah anaknya sedang resah, dan sedang mempunyai masalah yang belum dapat diselesaikan. Ibu akan menunggu, apakah anak akan datang untuk memohon doa ibu, atau anak akan berusaha menyelesaikan sendiri. Ibu tetap akan mendoakannya.


“Ibu, tolong doakan, aku mau test,” sms si bungsu.


“Ibu, makasih doanya, tadi semua berjalan lancar,” kembali sms si bungsu. Ibu tersenyum, dan sangat senang anaknya bisa menyelesaikan pekerjaan dan tugasnya dengan baik.


Semakin anak menjadi dewasa, ibu juga akan mendudukkan dirinya, untuk membuat anak mandiri, dan tidak mencampuri persoalannya tanpa diminta. Kadang anak bisa berbuat salah, tapi seorang ibu, harus bisa mengarahkan anaknya, untuk menerima akibat atas segala kesalahan yang dilakukan, dan berusaha untuk tidak mengulangi lagi kesalahan yang sama.


Betapa beratnya peran ibu, oleh karena itu menjadi seorang ibu bukanlah hal yang mudah. Diperlukan kedewasaan, kematangan, agar ibu dapat menjalankan perannya, dan membuat keluarga bahagia atas peran ibu yang bisa menaungi seluruh anggota keluarga, dengan kelembutan, ketegasan dan kebijaksanaan nya.


Semoga kita semua menjadi ibu yang baik, bijaksana, dan membuat keluarga bahagia.

Posted in budaya. 2 Comment »

Catatan Perjalanan Tim BAZNAS 27-31 Jan `09 di Palestina

Lima hari tinggal di sana banyak pelajaran dan hikmah yang harus diteladani dari masyarakat Gaza. Kesan pertama, mereka sangat memuliakan tamu. Mereka sangat senang menerima tamu. Di setiap tempat yang kami kunjungi, kami selalu diterima dengan hangat dan ramah, tulus tanpa dibuat-buat, disambut oleh seluruh pejabat lembaga di pintu gerbang mereka. Dijamu dengan baik, meskipun dengan sederhana tapi terlihat bahwa mereka begitu bersungguh-sungguh memberikan yang terbaik untuk tamu. Mereka bilang bahwa kewajiban memuliakan tamu adalah tiga hari, tapi untuk tim Indonesia mereka menyediakan waktu seminggu untuk melayani, mendampingi, mengantar dan menjamu kami. Bahkan mereka dengan sigap membayari souvenir yang kami pilih untuk oleh-oleh. Jumlah 850 sekhel sungguh tidak kecil untuk mereka, tapi saat kami ingin membayar sendiri mereka sangat marah. Sungguh merupakan kehormatan yang luar biasa menjadi tamu mereka.

Kesan kedua, budaya menebarkan salam. Setiap bertemu mereka selalu mengucapkan salam baik sesama mereka apalagi dengan kami. Di jalan, naik kendaraan, ketemu saat shalat, ketemu saat makan dan di mana saja, dengan siapa saja mereka mengucapkan salam. Orang-orang Ghaza sangat ramah, terbuka dan suka mengobrol. Di setiap kesempatan berjumpa, mereka selalu berinisiatif untuk menyapa dan mengajak kami mengobrol, meskipun sebagian besar tidak mengetahui bahasa asing. Setelah dua puluh tahun tanpa pernah melihat orang selain Palestina, Yahudi dan Arab, kini mereka sangat senang dan antusias bertemu dengan orang asing. Petugas cleaning service di RSIA, Ummu Muhammad, bahkan mengajak ngobrol saya setengah jam lebih tanpa masing-masing kami tahu persis artinya. Tapi saya bisa menangkap ceritanya tentang perang, bayi yang terbunuh, anaknya yang sembilan dan keinginannya untuk menelepon saya kalau saya sudah kembali ke Indonesia. Juga dia selalu memeluk dan memberikan kiss by (mmuah...mmuah...mmuah..., katanya berulang kali mewakili ciuman anaknya yang sembilan untuk saya) Wah..wah....benar-benar jenis komunikasi yang aneh. Keramahan juga ditunjukkan oleh petugas imigrasi saat kami hendak keluar Rafah. Kami disambut dengan salaman dan pelukan di kantor imigrasi Palestina. Seingat saya baru di kantor imigrasi Palestina lah pendatang berpeluk-pelukan dengan petugas imigrasi.

Kesan ketiga, orang-orang Gaza sangat optimis menghadapi kehidupan.. Mereka tinggal di apartemen atau rumah-rumah yang baik. Kebersihan fasilitas umum jauh lebih baik dibandingkan di wilayah Arab lainnya. Sesungguhnya kehidupan mereka tidak mudah Akibat blokade, krisis ekonomi cukup terasa. Di Gaza, penghasilan seorang dokter spesialis USD 1500 per bulan, dokter umum USD 5000-1000. Sedangkan untuk pegawai biasa gajinya USD 3000-5000. Pengangguran mendapat subsidi USD 2000 per bulan dari pemerintah. Biaya pendidikan & kesehatan gratis, termasuk untuk pengobatan penyakit-penyakit serius seperti kanker, lever, jantung atau penyakit berat lainnya yang biayanya puluhan ribu dollar. Untuk biaya kesehatan tersebut, gaji para pegawai dipotong asuransi sebesar USD 20 per bulan, sedangkan untuk pengangguran asuransi kesehatan dibayar pemerintah..

Harga barang cukup tinggi di Gaza dibandingkan dengan Jakarta. Secangkir teh seharga 3 sekhel (1 sekhel sekitar Rp. 2.000,-), roti is tanpa isi 3 sekhel. Kami pernah makan nasi berlima menghabiskan 250 sekhel. Dengan harga yang tinggi tersebut, penghasilan masyarakat sangat terbatas untuk hidup nyaman. Pendapatan Gaza sebagian berasal dari donasi luar negeri, termasuk Amerika Serikat. Jadi menurut mereka : kami ini disenangkan, digemukkan untuk kemudian ditembaki. Masya Allah.... Hebatnya, kehidupan masyarakatnya tetap damai (di luar adanya agresi), penampilannya tenang, nada bicaranya kalem, tidak ada pertengkaran laiknya di negara Arab lainnya. Paras wajahnya, perempuan dan laki-laki, yang manis dan lembut lebih banyak paras Persianya dibandingkan Arab. Saya sangat terkesan dengan Misrina, suster di RSIA yang cantik dan lembut dan juga Kholid Yassin, imam masjid Abbas yang sangat cool (pemuda 23 tahun, berjins & jaket kulit, hafidz Qur’an yang nada bicaranya halus dan selalu menunduk). Kata Pak Okvianto, yang lebih cool justru muadzinnya, yang lebih berparas Persia, tapi karena saya tidak bertemu dengannya saya tidak bisa membandingkan keduanya. Yang jelas karena keduanya hafidz Qur’an, pasti mereka sama-sama keren. Kesan keempat, sepandai apapun mereka menutupi kondisi kepedihan akibat perang, tetap saja perang menimbulkan kecemasan dan kengerian. Yang paling terasa adalah kerahasiaan yang sangat dijaga mereka. Di RS tidak ada catatan tentang jumlah pasien, data pasien dan kondisi mereka. Dokter Indonesia yang membantu hanya disodori status pasien saat hendak memeriksa, itupin didampingi petugas Gaza. Saya yang tinggal di RSIA tidak bisa mendapatkan data jumlah bayi yang lahir. Bayi yang lahir langsung dibawa pulang dibungkus dengan selimut rapat-rapat. Pasien yang mengalami sectio caesaria yang harus dirawat ditempatkan di ruangan khusus yang pintunya dikunci dan hanya dibuka oleh petugas ketika pengunjung menunjukkan keterangan. Saat saya mencoba menanyakan jumlah yang lahir, penanggung jawab RSIA menolak dan meminta saya menanyakan langsung kepada direktur RSIA. Tetapi melihat padatnya pengunjung dan besarnya RS saya kira ratusan bayi yang setiap hari dilahirkan di RSIA. Menurut informasi katanya ada 3000 an bayi yang lahir selama masa agresi. Alhamdulillah, mudah-mudahan semakin banyak bayi lahir di Gaza yang akan memperkuat tanah kelahiran mereka.

Kesan berikutnya, tanah Gaza memang bumi jihad. Warganya sangat sabar dan tabah. Mereka tidak takut kematian, bahkan anak-anak pun. Ketika saya tanya kepada public relation UCLA, ustadz Darul Qur’an, Ummu Suadatery (ibu tiga orang syuhada), Ummu Rasyid (cleaning service RSIA keturunan Afsel) apakah mereka tidak takut dengan kematian, jawaban mereka seragam : kematian adalah takdir Allah, yang tidak bisa dihindarkan. Kematian hanya terjadi jika memang sudah sampai takdirnya. Kalaupun meninggal, kami akan mendapat tempat yang lebih baik, begitu keyakinannya. Subhanallah.

Kesan lain, tentang anak-anak Gaza. Mereka adalah anak-anak riang, optimis tak terlihat mengidap trauma perang. Mereka sangat suka difoto. Saurin...saurin begitu katanya setiap melihat kami. Di Jabaliyah, saya dikerubuti lebih dari sepuluh anak usia 4-10 tahun yang bolak-balik mengajak salaman dan menginginkan saya mengingat dan menyebut nama-nama mereka. Ahmad, Muhammad, Musa, Abdurrahman dan sebagainya.... mereka sebutkan berulang-ulang sambil menunjuk dirinya. Ketika saya berhasil mengingat nama-nama dan muka-muka mereka yang mirip mereka berebut bersalaman dan bersorak-sorak gembira. Saya terharu, teringat anak-anak saya di rumah yang saat ini sedang tenang belajar, nyaman dan aman tanpa kekhawatiran apapun. Sebaliknya mereka, tetap riang dan semangat meskipun ancaman roket dan bom mengacung kepada mereka. Subhanallah, ya Allah lindungilah mereka. Mereka anak-anak yang akan melanjutkan perjuangan Palestina. Semangat anak-anak juga terlihat di tahfidzul Qur’an, bahkan dalam suasana perang pun mereka tidak absen datang menghafal Qur’an. Semangat juga saya temukan pada diri Ahmad Yassin bin Alauddin Yassin. Bocah 5 tahun itu begitu bangga mengenakan kostum mujahid lengkap dengan ikat kepala hijau dan senapan mainan saat mendampingi ayahnya menerima kami.

Kesan berikutnya tentang pejabat Gaza. Di beberapa lembaga, kami menjumpai mereka sebagai orang-orang tawadhu’ yang selalu menjaga wudhu. Di Indonesia menjaga wudhu juga sudah banyak dilakukan masyarakat. Tapi di Gaza yang dingin, tentu tidak mudah untuk selalu menjaga dari dari hadas. Tapi mereka tidak berat melakukan sunnah Rasul tersebut..

Kesan lain, seperti di negara Mesir dan saudi Arabia, softdrink seperti coca cola, pepsi, mirinda dll sangat mudah dijumpai, di warung maupun di jamuan makan. Bahkan pepsi juga terlihat pada sebuah foto pertemuan pejabat Palestina yang dihadiri Syekh Ahmad Yassin. Saya agak heran, mengapa mereka yang benci Amerika dan Israel justru mengkonsumsi produk-produk mereka. Sementara di Indonesia, Malaysia dan negara lain termasuk Afrika Selatan (kata dokter Afsel yang saya temui di RS) sedang dikampainyekan boikot produk Amerika. Saya sempat bertanya kepada staf UCA tentang hal tersebut dan ternyata jawabannya cukup mengejutkan. Katanya seluruh produk yang kami konsumsi : daging, sayuran, buah-buahan, air kemasan, bahan pangan lainnya, pakaian dan sebagian besar produk berasal dari Israel. Jadi buat kami minum air putih sama saja dengan minum cocacola karena sama-sama produk Israel. Kami tidak punya pilihan. Kami mendukung perjuangan negara-negara muslim melalui boikot produk Amerika, tapi kami berjuang melalui perang dan senjata. O....jadi begitu, saya mulai bisa memahami mereka. Hanya sedikit warga Gaza yang memahami bahasa Inggris (sebagian besar kalangan akademisi) karena mereka begitu benci kepada Amerika sehingga tidak mau mempelajari bahasa mereka.

Kesan yang paling mendalam, karomah-karomah yang terjadi di Gaza. Dari jama’ah masjid kami mendapatkan cerita tentang karomah-karomah yang terjadi selama masa agresi. Setidaknya ada lima karomah yang saya ingat.

Pertama, pasukan malaikat turut berperang di Gaza. Ini terbukti dari cerita seorang mujahid yang lolos dari tawanan Israel. Ketika tertawan tentara Israel, dia diinterogasi tentang jumlah mujahid dan menanyakan tentang pasukan berjubah putih yang ketika ditembak berkali-kali tidak mati. Karena merasa tidak mengenal pasukan tersebut, sang mujahid menjawab tidak tahu. Tentara Israel tidak puas dan berkali-kali menanyakan hal yang sama sambil mencederai sang mujahid sampai kakinya harus diamputasi. Sang mujahid tetap mengatakan tidak tahu. Berkat pertolongan Allah, mujahid yang cedera ini berhasil lolos dan menceritakan bantuan pasukan malaikat ini.

Karomah kedua, untuk melawan mujahidin, tentara Israel menyiapkan anjing-anjing doberman yang dibiarkan kelaparan untuk mengejar dan menyerang mujahidin di sekitar perbatasan Gaza. Suatu hari anjing-anjing doberman tersebut dilepas untuk memburu mujahidin, ketika si doberman sudah mendekat, sang mujahidin mengajaknya berbicara. Ya Anjing, kami sedang menjalankan perintah Allah untuk membela hak kami dan melawan kaum musyrikin, jadi jangan halangi kami, begitu kira-kira ucapan sang mujahidin dalam bahasa Arab kepada si doberman. Dan subhanallah, si anjing tiba-tiba berhenti, terdiam dan dengan menunduk kembali ke tentara Israeil.

Ketiga, seorang mujahid sedang diserang bertubi-tubi oleh tank Israel. Sang mujahid berlari-lari menyelamatkan diri dari kejaran tank, tiba-tiba tembakan tank terkena pohon besar yang langsung tumbang menjatuhi sang mujahid. Tentara Israel mengira sang mujahid sudah tewas sehingga meninggalkan tempat itu. Alhamdulillah, sang mujahid justru selamat terlindungi pohon, dia hanya lecet-lecet dan kembali ke pasukannya semula.

Karomah keempat, ketika ada keluarga yang anggota keluarganya menjadi syahid, mereka memutuskan untuk menguburkan jenazah-jenazah syahid tersebut dalam satu makam. Mereka menggali makam salah seorang keluarganya yang syahid tujuh tahun lalu. Dan saat digali, subhanallah..... jenazah itu masih utuh, awer persis sama seperti saat dimakamkan. Wajahnya masih bersih, rambut gondrongnya sebahu juga rapi bahkan dahinya masih berkeringat seolah-olah baru dimakamkan. Ini membuat mereka semakin yakin akan kekuasaan Allah dan membuat mereka semakin merindukan syahid.

Karomah kelima, seorang mujahid ditugaskan untuk menjaga jalan masuk Gaza agar tank-tank Israel tidak masuk ke Gaza City. Karena jumlah mujahid yang terbatas, lokasi itu hanya dijaga oleh seorang mujahid. Dengan tugas yang strategis tersebut sang mujahid tidak bisa meninggalkan tempat untuk keperluan pribadi. Karena setiap saat ada tank yang lewat yang harus dia tembak. Dia hanya berbekal kurma. Berkat bantuan Allah sang mujahid kuat duduk berjaga, mengintai jalanan dalam cuaca yang sangat dingin itu selama sebulan! Cerita tentang kepengecutan tentara Israel juga beredar. Saking takutnya mereka kepada para mujahidin, dikabarkan mereka selalu menggunakan pampers saat bertugas di dalam tank, agar mereka tak perlu keluar tank saat buang hajat.

Subhanallah..... Gaza memang luar biasa. Dengan karakter penduduknya yang sangat islami, suara hafalan Qur’an yang terus-menerus berkumandang, dan semangat jihad yang tak pupus, sangatlah wajar kalau Allah begitu mencintai mereka, sehingga keberkahan tetap terasa meski di tengah suasana perang.

Dengan kecintaan dan perlindungan Allah, kemenangan Gaza hanyalah soal waktu. Innallaha ma’al shabirin begitu keyakinan mereka.

Selamat berjuang rakyat Gaza, kami mendukung dan selalu mendoakanmu.

sumber: http://www.eramuslim.com/berita/nasional/lima-hari-berbagi-kasih-di-bumi-jihad-gaza-catatan-perjalanan-baznas-ke-gaza-palestina.htm

Posted in budaya. 6 Comment »

Islam dan Keindahan Bahasa

assalaamu’alaikum wr. wb.



Ajaran Islam penuh dengan keindahan. Keindahan yang dimaksud tentu bukanlah sebentuk pemujaan terhadap syahwat. Keindahan yang sedang kita bicarakan adalah sesuatu yang membuat hati tentram, bukannya malah gelisah karena didesak oleh hawa nafsu.



Kesempurnaan Islam itu sendiri sudah merupakan sebuah keindahan tiada taranya. Dalam ajaran Islam menyatu segala kebaikan. Di satu sisi, Allah SWT mengungkapkan firman-firman-Nya dalam Al-Qur’an dengan kata-kata yang amat indah bagaikan puisi. Di sisi lain, Al-Qur’an juga tidak hanya enak ‘dikunyah’ oleh kaum penyair, namun juga telah mencerahkan sekian banyak ilmuwan dengan isinya yang (ternyata) sangat bersesuaian dengan hasil penelitian-penelitian ilmiah. Meski demikian, Al-Qur’an bukanlah kitab puisi, bukan pula sebuah jurnal sains. Al-Qur’an adalah Al-Qur’an, yaitu sebuah bacaan terbaik yang bisa menghimpun semua kebaikan di dalamnya. Tidak ada yang bisa menulis dengan cara demikian kecuali hanya Allah saja.



Keseimbangan yang menakjubkan ini pun terpancar dalam sikap hidup umat Islam (yang memahami ajaran agamanya). Prajurit Viking dikenal kejam dan perkasa, dan mereka memang gila perang dan gemar mabuk. Prajurit Jepang yang menginvasi segenap Asia pada Perang Dunia II juga dikenal kejam dan harus secara konsisten ‘dihibur’ dengan kehadiran para geisha. Akan tetapi, hanya kaum mujahid-lah yang bisa diberikan deskripsi “prajurit di siang hari, rahib di waktu malam”. Dalam diri seorang Muslim sejati, terdapat keberanian seekor singa yang senantiasa siap bertempur, seorang rahib yang menenggelamkan dirinya di dalam ibadah, sekaligus seorang ilmuwan yang menemukan kebahagiaannya dalam menelaah fenomena-fenomena alam.



Salah satu keindahan yang paling terpancar dalam diri seorang Muslim adalah keindahan bahasanya, baik melalui tulisan maupun ucapan. Jika kita meneladani Rasulullah saw., maka hal ini adalah suatu hal yang amat wajar. Beliau memang dikenal sebagai pribadi yang amat halus budi pekertinya dan lembut hatinya. Kalimat-kalimat yang meluncur dari lidahnya pun penuh dengan cita rasa sastra yang tinggi, meskipun beliau tidak pernah menyandang gelar ‘sastrawan’ semasa hidupnya.



Tokoh-tokoh besar dalam sejarah Islam pun mengikuti kebiasaan ini. Sebenarnya tutur kata yang indah ini bukanlah hasil dari sebuah ‘ilmu merangkai kata’. Kata-kata indah itu bukanlah sebuah rayuan gombal, basa-basi atau janji muluk. Seseorang akan memilih dan merangkai kata-kata yang indah karena hati, pikiran dan perbuatannya dipenuhi oleh keindahan. Kita memulai segalanya dengan menyebut nama Dia Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Bukankah sangat wajar jika kemudian perbuatan itu menghasilkan sesuatu yang indah dan penuh kasih saying, karena memang dilakukan atas nama Dia yang memiliki nama Ar-Rahmaan dan Ar-Rahiim ?



Keindahan adalah bagian dari hidup seorang Muslim. Bertutur kata dengan cara yang indah adalah sebuah kewajaran, karena memang umat Islam diajarkan untuk mencintai keindahan. Puisi adalah salah satu cara untuk mengungkapkan keindahan bahasa semacam ini. Bait-bait syair yang diucapkan seseorang dapat menjelaskan bagaimana sikap dan pendiriannya tentang suatu hal. Simaklah bait puisi yang sering disitir oleh Hasan al-Banna berikut ini :



Tak kukenal tanah air selain Islam

Ada Syam di sana dan lembah Nil semacam

Setiap negeri tempat nama Allah diseru

Seluruh penjurunya kuhitung bagian relung negeriku



Bait puisi di atas dengan jelas menggambarkan ideologi nasionalisme sang pembacanya menurut pemahamannya sendiri. Inilah sebuah cara yang sangat indah untuk mengungkapkan sebuah pendirian yang amat kuat.



Kita juga dapat menemukan contoh-contoh lain di mana para pemuka umat Islam menggunakan untaian kata yang amat indah untuk menyampaikan maksudnya. Tersebutlah ustadz Muhammad Zahran, pemilik Madrasah Diniyah Ar-Rasyad di Mesir. Madrasah ini adalah salah satu tempat di mana Hasan al-Banna pernah menimba ilmu. Suatu hari, sang ustadz mengajukan sebuah pertanyaan pada seorang murid, dan murid tersebut belum bisa memberikan jawaban yang memuaskan. Apakah sang ustadz mencela ketidakmampuannya? Tidak. Sebagai gantinya, beliau menghadiahkan sebait puisi yang diperintahkannya untuk ditulis dalam buku catatan sang murid.



Wahai kuda Allah

percepatlah lagi langkahmu

untuk mengambil pemuda ini

Wahai kuda Allah



Seorang guru yang baik tidak mencela ketidakmampuan muridnya. Dengan sebait puisi sederhana ini, ustadz Muhammad Zahran mendoakan agar muridnya segera ditambah ilmunya oleh Allah. Inilah buah dari kasih sayang yang meluap-luap dari dalam dadanya, kemudian meluncur dari lisannya.



Tidak terhitung pula banyaknya syair-syair kepahlawanan yang telah ditulis dengan pilihan kata yang amat manis terangkai. Semuanya merupakan hasil dari keindahan di dalam hati. Beginilah salah satu bait dari sebuah nasyid yang dilantunkan oleh para demonstran saat terjadinya Revolusi Mesir pada tahun 1919 :



Cinta negeri bagian dari iman

Ruh Allah memanggil kita

Jika kemerdekaan tidak menghimpun kita

Surga Firdaus adalah tempat kita bersatu



Manusia juga biasa bersajak untuk mengobati kerinduan akan kampung halaman, atau meneriakkan kesedihannya yang lirih ketika memikirkan keadaan negeri asalnya. Bilal bin Rabah ra. adalah seorang mantan budak yang kemudian menjadi salah seorang sahabat Rasulullah saw. yang tidak pernah diragukan lagi loyalitasnya. Berapa banyak yang ingat bahwa beliau juga memiliki cita rasa keindahan sastra yang sangat tinggi? Simaklah sajak kerinduannya terhadap tanah Mekkah, ketika ia tengah berhijrah ke Madinah :



O, angan,

masihkah mungkin ‘kan kulalui malam

pada lembah dan ada Izkhir mengitariku, juga Jalil

Masihkah mungkin kutandan gemericik air Mijannah

Atau Syamah menampak bagiku,

juga Thafil



Simaklah pula bagaimana Ahmad Syauqi, seorang penyair kenamaan di dunia Arab, menceritakan kepedihan hatinya menyaksikan runtuhnya Khilafah Islamiyah :



Lagu-lagu pesta menjadi sayu terdengar

Semakin samar terdengar di tengah gegap gempitanya pesta

Ia telah terbalut kain kafan pada malam perkawinan

Dikuburkan saat mentari pagi bersinar terang menyambut hari

Semua mimbar dan menara adzan berguncang karenamu

Seluruh kerajaan di segala penjuru pun menangis untukmu

India dan Mesir bersedih

Mereka menangis dengan derai air mata tak terbendungkan

Syam, Iraq dan Persia bertanya

Apakah khilafah telah dihapuskan dari muka bumi ini ?



Bisakah Anda merasakan keberanian para pejuang Ikhwanul Muslimin di Damaskus dari puisi yang digubah oleh ustadz Abdurrahman Sa’ati berikut ini?



Umayyah enggan kehilangan kehormatannya

Sepanjang masa, juga putra-putra Ghasan

Siapakah yang hendak berlagak congkak di Jalaq Najib

Siapa pula yang hendak berlagak congkak di bumi Harran

Mereka tak sudi terhina di dunia

Bagi mereka, kemuliaan hidup dan mati adalah sama

Mereka tak tahan membiarkan kezaliman

Yang dilakukan oleh tirani manusia maupun jin



Bahkan dalam kesulitan yang paling berat sekalipun, seorang Muslim bisa merasakan keindahan tersebut dalam relung hatinya. Simaklah puisi seorang penyair berikut ini :



terima kasih kepada Allah

atas segala ujian yang menimpa

di kala itu aku dapat membedakan

lawan dari kawan



Lebih ekstremnya lagi, bahkan di tengah deraan siksa di penjara Thur, seorang ikhwan bisa menggubah sebuah puisi di tengah gelap dan dinginnya malam, sebagaimana yang disitir oleh Yusuf al-Qaradhawi :



Wahai orang yang terlelap dalam buaian tidurnya

bangunlah dan ingatlah kepada Dzat Yang tidak pernah tidur

Tuhanmu mengajakmu untuk terus berdzikir kepada-Nya

sedang engkau dibuai oleh bunga-bunga tidur



Banyak pula Muslim yang melontarkan bait-bait syair untuk mengungkapkan identitas dirinya. Tidak ada yang lebih gamblang sekaligus menggetarkan dada selain cara pengungkapan jati diri sebagaimana ucapan seorang sahabat Rasulullah saw. sebagai berikut :



Jangan panggil aku

kecuali dengan seruan, “Hai hamba-Nya,”

karena itulah semulia-mulia namaku



Atau ketika seorang sahabat lainnya ditanya mengenai nasabnya ; apakah ia berasal dari kabilah Qais atau Tamim. Bagaimanakah jawabnya?



Islamlah ayahku,

aku tidak punya ayah selain itu

biarlah mereka bangga dengan Qais atau Tamim



Manusia juga gemar merangkai kata indah ketika hendak ber-munajat kepada Yang Maha Indah. Ini adalah sebuah kewajaran, karena ketika kita mengingat Allah, maka segalanya pasti nampak indah. Kehendak Allah semuanya indah, namun hawa nafsu manusialah yang membuatnya berpikir yang tidak-tidak terhadap-Nya. Beginilah seorang arif di masa lalu bersyair :



Begadangnya mata ini, Rabbi,

jika bukan untuk wajah-Mu

adalah sia-sia



Dan isak tangisnya

jika bukan lantaran kehilangan diri-Mu Ilahi

adalah kebatilan belaka



Beginilah Hasan al-Banna mengobarkan semangat kaum pemuda, khususnya mahasiswa, untuk terjun ke dalam dunia dakwah :



Mendorong kita untuk terjun dengan dakwah ini...

dakwah yang tenang, namun lebih gemuruh

dari tiupan angin topan yang menderu...

dakwah yang rendah hati, namun lebih perkasa

dari keangkuhan gunung yang menjulang...

dakwah yang terbatas, namun jangkauannya

lebih luas dari belahan bumi seluruhnya



Di kalangan penyair Indonesia pun banyak sekali sastrawan yang memberikan warna ‘keindahan Islam’ pada sajak-sajaknya. Sebagian bahkan tidak pernah bisa melepaskan diri darinya. Semakin dalam keimanan terpancang dalam hatinya, maka ia semakin tidak bisa lepas dari pengaruh keindahan Islam. Simaklah penggalan bait puisi ‘Sajadah Panjang’ gubahan Taufiq Ismail yang sudah terkenal ini :



Diselingi sekedar interupsi

Mencari rezeki, mencari ilmu

Mengukur jalan seharian.

Begitu terdengar suara adzan

Kembali tersungkur hamba.



Ada sajadah panjang terbentang

Hamba tunduk dan rukuk

Hamba sujud tak lepas kening hamba

Mengingat Dikau

Sepenuhnya



Dan meskipun tidak menggunakan pilihan kata yang khas menggambarkan nilai-nilai ajaran Islam, namun Taufiq Ismail tetap tidak bisa menyembunyikan ajaran Islam dalam dirinya. Ketika ia menulis puisi yang tidak bertemakan religius sekalipun, hal ini tetap tergambar jelas, misalnya seperti pada penggalan puisi ‘Kita Adalah Pemilik Sah Republik Ini’ :



Tidak ada pilihan lain. Kita harus

Berjalan terus

Kita adalah manusia bermata sayu, yang di tepi jalan

Mengacungkan tangan untuk oplet dan bus yang penuh

Kita adalah berpukuh juta yang bertahan hidup sengsara

Dipukul banjir, gunung api, kutuk dan hama

Dan bertanya-tanya diam inikah yang namanya, merdeka

Kita yang tak punya kepentingan dengan seribu slogan

Dan seribu pengeras suara yang hampa suara



Simaklah pula sebuah puisi karangan Helvy Tiana Rosa yang berjudul ‘Fi Sabilillah’ berikut ini :



Jangan dilarang

orang yang melayang pandang

ke sabilillah

: ia sudah tahu resah nyata semesta

seringai malam bumi kita



jangan ditahan

orang yang ingin melemparkan diri

ke sabilillah

: ia sudah tahu ramuan cinta yang firdaus

juga rejam rintangan itu



jangan dinanti

orang yang pergi

ke sabilillah

: ia sudah tahu ke mana

harus menjual nyawa



Anda juga dapat menemukan cita rasa keindahan bahasa yang amat tinggi dalam tulisan-tulisan alm. ustadz Rahmat Abdullah, misalnya dalam artikel-artikelnya di majalah Tarbawi.  Ketika membahas masalah-masalah politik, ekonomi, sejarah, sosial dan kemanusiaan, keindahan bahasa tidak ditinggalkan.  Beliau memang bukan sastrawan, tapi cita rasa bahasanya tidak bisa dianggap kalah oleh kaum penyair.  Keindahan bahasa adalah cermin dari keindahan isi hatinya.



Bagaimana dengan Al-Qur’an? Aduh, saya tidak mampu memilih. Semua ayat di dalamnya memiliki nilai keindahan. Tidak mungkin bagi saya untuk memilih salah satu di antaranya sebagai representasi keindahan bahasa, karena semuanya indah. Kalau memang harus menyitir sebagian saja, maka dengarkanlah firman-Nya ini :



Wahai jiwa yang tenang

Kembalilah kepada Rabb-mu dengan ridha lagi di-ridhai-Nya

Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku

Dan masuklah ke dalam surga-Ku

(Q.S. Al-Fajr [89] : 27 – 30)



Bagaimana dengan tutur kata kita? Sudahkah kita memperhatikan keindahan bahasa kita? Sudahkah kita berbicara dengan indah dan menulis dengan cara yang indah pula? Sudahkah hati kita dipenuhi dengan keindahan?



wassalaamu’alaikum wr. wb.

Posted in budaya. 4 Comment »