Lima hari tinggal di sana banyak pelajaran dan hikmah yang harus diteladani dari masyarakat Gaza. Kesan pertama, mereka sangat memuliakan tamu. Mereka sangat senang menerima tamu. Di setiap tempat yang kami kunjungi, kami selalu diterima dengan hangat dan ramah, tulus tanpa dibuat-buat, disambut oleh seluruh pejabat lembaga di pintu gerbang mereka. Dijamu dengan baik, meskipun dengan sederhana tapi terlihat bahwa mereka begitu bersungguh-sungguh memberikan yang terbaik untuk tamu. Mereka bilang bahwa kewajiban memuliakan tamu adalah tiga hari, tapi untuk tim Indonesia mereka menyediakan waktu seminggu untuk melayani, mendampingi, mengantar dan menjamu kami. Bahkan mereka dengan sigap membayari souvenir yang kami pilih untuk oleh-oleh. Jumlah 850 sekhel sungguh tidak kecil untuk mereka, tapi saat kami ingin membayar sendiri mereka sangat marah. Sungguh merupakan kehormatan yang luar biasa menjadi tamu mereka.
Kesan kedua, budaya menebarkan salam. Setiap bertemu mereka selalu mengucapkan salam baik sesama mereka apalagi dengan kami. Di jalan, naik kendaraan, ketemu saat shalat, ketemu saat makan dan di mana saja, dengan siapa saja mereka mengucapkan salam. Orang-orang Ghaza sangat ramah, terbuka dan suka mengobrol. Di setiap kesempatan berjumpa, mereka selalu berinisiatif untuk menyapa dan mengajak kami mengobrol, meskipun sebagian besar tidak mengetahui bahasa asing. Setelah dua puluh tahun tanpa pernah melihat orang selain Palestina, Yahudi dan Arab, kini mereka sangat senang dan antusias bertemu dengan orang asing. Petugas cleaning service di RSIA, Ummu Muhammad, bahkan mengajak ngobrol saya setengah jam lebih tanpa masing-masing kami tahu persis artinya. Tapi saya bisa menangkap ceritanya tentang perang, bayi yang terbunuh, anaknya yang sembilan dan keinginannya untuk menelepon saya kalau saya sudah kembali ke Indonesia. Juga dia selalu memeluk dan memberikan kiss by (mmuah...mmuah...mmuah..., katanya berulang kali mewakili ciuman anaknya yang sembilan untuk saya) Wah..wah....benar-benar jenis komunikasi yang aneh. Keramahan juga ditunjukkan oleh petugas imigrasi saat kami hendak keluar Rafah. Kami disambut dengan salaman dan pelukan di kantor imigrasi Palestina. Seingat saya baru di kantor imigrasi Palestina lah pendatang berpeluk-pelukan dengan petugas imigrasi.
Kesan ketiga, orang-orang Gaza sangat optimis menghadapi kehidupan.. Mereka tinggal di apartemen atau rumah-rumah yang baik. Kebersihan fasilitas umum jauh lebih baik dibandingkan di wilayah Arab lainnya. Sesungguhnya kehidupan mereka tidak mudah Akibat blokade, krisis ekonomi cukup terasa. Di Gaza, penghasilan seorang dokter spesialis USD 1500 per bulan, dokter umum USD 5000-1000. Sedangkan untuk pegawai biasa gajinya USD 3000-5000. Pengangguran mendapat subsidi USD 2000 per bulan dari pemerintah. Biaya pendidikan & kesehatan gratis, termasuk untuk pengobatan penyakit-penyakit serius seperti kanker, lever, jantung atau penyakit berat lainnya yang biayanya puluhan ribu dollar. Untuk biaya kesehatan tersebut, gaji para pegawai dipotong asuransi sebesar USD 20 per bulan, sedangkan untuk pengangguran asuransi kesehatan dibayar pemerintah..
Harga barang cukup tinggi di Gaza dibandingkan dengan Jakarta. Secangkir teh seharga 3 sekhel (1 sekhel sekitar Rp. 2.000,-), roti is tanpa isi 3 sekhel. Kami pernah makan nasi berlima menghabiskan 250 sekhel. Dengan harga yang tinggi tersebut, penghasilan masyarakat sangat terbatas untuk hidup nyaman. Pendapatan Gaza sebagian berasal dari donasi luar negeri, termasuk Amerika Serikat. Jadi menurut mereka : kami ini disenangkan, digemukkan untuk kemudian ditembaki. Masya Allah.... Hebatnya, kehidupan masyarakatnya tetap damai (di luar adanya agresi), penampilannya tenang, nada bicaranya kalem, tidak ada pertengkaran laiknya di negara Arab lainnya. Paras wajahnya, perempuan dan laki-laki, yang manis dan lembut lebih banyak paras Persianya dibandingkan Arab. Saya sangat terkesan dengan Misrina, suster di RSIA yang cantik dan lembut dan juga Kholid Yassin, imam masjid Abbas yang sangat cool (pemuda 23 tahun, berjins & jaket kulit, hafidz Qur’an yang nada bicaranya halus dan selalu menunduk). Kata Pak Okvianto, yang lebih cool justru muadzinnya, yang lebih berparas Persia, tapi karena saya tidak bertemu dengannya saya tidak bisa membandingkan keduanya. Yang jelas karena keduanya hafidz Qur’an, pasti mereka sama-sama keren. Kesan keempat, sepandai apapun mereka menutupi kondisi kepedihan akibat perang, tetap saja perang menimbulkan kecemasan dan kengerian. Yang paling terasa adalah kerahasiaan yang sangat dijaga mereka. Di RS tidak ada catatan tentang jumlah pasien, data pasien dan kondisi mereka. Dokter Indonesia yang membantu hanya disodori status pasien saat hendak memeriksa, itupin didampingi petugas Gaza. Saya yang tinggal di RSIA tidak bisa mendapatkan data jumlah bayi yang lahir. Bayi yang lahir langsung dibawa pulang dibungkus dengan selimut rapat-rapat. Pasien yang mengalami sectio caesaria yang harus dirawat ditempatkan di ruangan khusus yang pintunya dikunci dan hanya dibuka oleh petugas ketika pengunjung menunjukkan keterangan. Saat saya mencoba menanyakan jumlah yang lahir, penanggung jawab RSIA menolak dan meminta saya menanyakan langsung kepada direktur RSIA. Tetapi melihat padatnya pengunjung dan besarnya RS saya kira ratusan bayi yang setiap hari dilahirkan di RSIA. Menurut informasi katanya ada 3000 an bayi yang lahir selama masa agresi. Alhamdulillah, mudah-mudahan semakin banyak bayi lahir di Gaza yang akan memperkuat tanah kelahiran mereka.
Kesan berikutnya, tanah Gaza memang bumi jihad. Warganya sangat sabar dan tabah. Mereka tidak takut kematian, bahkan anak-anak pun. Ketika saya tanya kepada public relation UCLA, ustadz Darul Qur’an, Ummu Suadatery (ibu tiga orang syuhada), Ummu Rasyid (cleaning service RSIA keturunan Afsel) apakah mereka tidak takut dengan kematian, jawaban mereka seragam : kematian adalah takdir Allah, yang tidak bisa dihindarkan. Kematian hanya terjadi jika memang sudah sampai takdirnya. Kalaupun meninggal, kami akan mendapat tempat yang lebih baik, begitu keyakinannya. Subhanallah.
Kesan lain, tentang anak-anak Gaza. Mereka adalah anak-anak riang, optimis tak terlihat mengidap trauma perang. Mereka sangat suka difoto. Saurin...saurin begitu katanya setiap melihat kami. Di Jabaliyah, saya dikerubuti lebih dari sepuluh anak usia 4-10 tahun yang bolak-balik mengajak salaman dan menginginkan saya mengingat dan menyebut nama-nama mereka. Ahmad, Muhammad, Musa, Abdurrahman dan sebagainya.... mereka sebutkan berulang-ulang sambil menunjuk dirinya. Ketika saya berhasil mengingat nama-nama dan muka-muka mereka yang mirip mereka berebut bersalaman dan bersorak-sorak gembira. Saya terharu, teringat anak-anak saya di rumah yang saat ini sedang tenang belajar, nyaman dan aman tanpa kekhawatiran apapun. Sebaliknya mereka, tetap riang dan semangat meskipun ancaman roket dan bom mengacung kepada mereka. Subhanallah, ya Allah lindungilah mereka. Mereka anak-anak yang akan melanjutkan perjuangan Palestina. Semangat anak-anak juga terlihat di tahfidzul Qur’an, bahkan dalam suasana perang pun mereka tidak absen datang menghafal Qur’an. Semangat juga saya temukan pada diri Ahmad Yassin bin Alauddin Yassin. Bocah 5 tahun itu begitu bangga mengenakan kostum mujahid lengkap dengan ikat kepala hijau dan senapan mainan saat mendampingi ayahnya menerima kami.
Kesan berikutnya tentang pejabat Gaza. Di beberapa lembaga, kami menjumpai mereka sebagai orang-orang tawadhu’ yang selalu menjaga wudhu. Di Indonesia menjaga wudhu juga sudah banyak dilakukan masyarakat. Tapi di Gaza yang dingin, tentu tidak mudah untuk selalu menjaga dari dari hadas. Tapi mereka tidak berat melakukan sunnah Rasul tersebut..
Kesan lain, seperti di negara Mesir dan saudi Arabia, softdrink seperti coca cola, pepsi, mirinda dll sangat mudah dijumpai, di warung maupun di jamuan makan. Bahkan pepsi juga terlihat pada sebuah foto pertemuan pejabat Palestina yang dihadiri Syekh Ahmad Yassin. Saya agak heran, mengapa mereka yang benci Amerika dan Israel justru mengkonsumsi produk-produk mereka. Sementara di Indonesia, Malaysia dan negara lain termasuk Afrika Selatan (kata dokter Afsel yang saya temui di RS) sedang dikampainyekan boikot produk Amerika. Saya sempat bertanya kepada staf UCA tentang hal tersebut dan ternyata jawabannya cukup mengejutkan. Katanya seluruh produk yang kami konsumsi : daging, sayuran, buah-buahan, air kemasan, bahan pangan lainnya, pakaian dan sebagian besar produk berasal dari Israel. Jadi buat kami minum air putih sama saja dengan minum cocacola karena sama-sama produk Israel. Kami tidak punya pilihan. Kami mendukung perjuangan negara-negara muslim melalui boikot produk Amerika, tapi kami berjuang melalui perang dan senjata. O....jadi begitu, saya mulai bisa memahami mereka. Hanya sedikit warga Gaza yang memahami bahasa Inggris (sebagian besar kalangan akademisi) karena mereka begitu benci kepada Amerika sehingga tidak mau mempelajari bahasa mereka.
Kesan yang paling mendalam, karomah-karomah yang terjadi di Gaza. Dari jama’ah masjid kami mendapatkan cerita tentang karomah-karomah yang terjadi selama masa agresi. Setidaknya ada lima karomah yang saya ingat.
Pertama, pasukan malaikat turut berperang di Gaza. Ini terbukti dari cerita seorang mujahid yang lolos dari tawanan Israel. Ketika tertawan tentara Israel, dia diinterogasi tentang jumlah mujahid dan menanyakan tentang pasukan berjubah putih yang ketika ditembak berkali-kali tidak mati. Karena merasa tidak mengenal pasukan tersebut, sang mujahid menjawab tidak tahu. Tentara Israel tidak puas dan berkali-kali menanyakan hal yang sama sambil mencederai sang mujahid sampai kakinya harus diamputasi. Sang mujahid tetap mengatakan tidak tahu. Berkat pertolongan Allah, mujahid yang cedera ini berhasil lolos dan menceritakan bantuan pasukan malaikat ini.
Karomah kedua, untuk melawan mujahidin, tentara Israel menyiapkan anjing-anjing doberman yang dibiarkan kelaparan untuk mengejar dan menyerang mujahidin di sekitar perbatasan Gaza. Suatu hari anjing-anjing doberman tersebut dilepas untuk memburu mujahidin, ketika si doberman sudah mendekat, sang mujahidin mengajaknya berbicara. Ya Anjing, kami sedang menjalankan perintah Allah untuk membela hak kami dan melawan kaum musyrikin, jadi jangan halangi kami, begitu kira-kira ucapan sang mujahidin dalam bahasa Arab kepada si doberman. Dan subhanallah, si anjing tiba-tiba berhenti, terdiam dan dengan menunduk kembali ke tentara Israeil.
Ketiga, seorang mujahid sedang diserang bertubi-tubi oleh tank Israel. Sang mujahid berlari-lari menyelamatkan diri dari kejaran tank, tiba-tiba tembakan tank terkena pohon besar yang langsung tumbang menjatuhi sang mujahid. Tentara Israel mengira sang mujahid sudah tewas sehingga meninggalkan tempat itu. Alhamdulillah, sang mujahid justru selamat terlindungi pohon, dia hanya lecet-lecet dan kembali ke pasukannya semula.
Karomah keempat, ketika ada keluarga yang anggota keluarganya menjadi syahid, mereka memutuskan untuk menguburkan jenazah-jenazah syahid tersebut dalam satu makam. Mereka menggali makam salah seorang keluarganya yang syahid tujuh tahun lalu. Dan saat digali, subhanallah..... jenazah itu masih utuh, awer persis sama seperti saat dimakamkan. Wajahnya masih bersih, rambut gondrongnya sebahu juga rapi bahkan dahinya masih berkeringat seolah-olah baru dimakamkan. Ini membuat mereka semakin yakin akan kekuasaan Allah dan membuat mereka semakin merindukan syahid.
Karomah kelima, seorang mujahid ditugaskan untuk menjaga jalan masuk Gaza agar tank-tank Israel tidak masuk ke Gaza City. Karena jumlah mujahid yang terbatas, lokasi itu hanya dijaga oleh seorang mujahid. Dengan tugas yang strategis tersebut sang mujahid tidak bisa meninggalkan tempat untuk keperluan pribadi. Karena setiap saat ada tank yang lewat yang harus dia tembak. Dia hanya berbekal kurma. Berkat bantuan Allah sang mujahid kuat duduk berjaga, mengintai jalanan dalam cuaca yang sangat dingin itu selama sebulan! Cerita tentang kepengecutan tentara Israel juga beredar. Saking takutnya mereka kepada para mujahidin, dikabarkan mereka selalu menggunakan pampers saat bertugas di dalam tank, agar mereka tak perlu keluar tank saat buang hajat.
Subhanallah..... Gaza memang luar biasa. Dengan karakter penduduknya yang sangat islami, suara hafalan Qur’an yang terus-menerus berkumandang, dan semangat jihad yang tak pupus, sangatlah wajar kalau Allah begitu mencintai mereka, sehingga keberkahan tetap terasa meski di tengah suasana perang.
Dengan kecintaan dan perlindungan Allah, kemenangan Gaza hanyalah soal waktu. Innallaha ma’al shabirin begitu keyakinan mereka.
Selamat berjuang rakyat Gaza, kami mendukung dan selalu mendoakanmu.
sumber: http://www.eramuslim.com/berita/nasional/lima-hari-berbagi-kasih-di-bumi-jihad-gaza-catatan-perjalanan-baznas-ke-gaza-palestina.htm